Apa bedanya Training, Coaching, dan Therapy?

Mungkin Anda termasuk orang yang kesulitan membedakan tiga istilah dalam judul di atas, yaitu Training, Coaching, dan Therapy. Wajar saja, karena ketiga istilah tersebut memang berasal dari bahasa Inggris. Melalui artikel ini saya akan memberikan pemahaman tentang ketiga istilah tersebut. Mudah-mudahan Anda mendapatkan pencerahan mengenai layanan apa yang paling sesuai untuk Anda ikuti.

Mari kita ambil sebuah tema tentang penjualan (selling). Sebuah perusahaan baru saja merekrut para karyawan baru yang bertugas untuk melakukan penjualan barang/ jasa kepada para konsumen. Para calon penjual ini masih belum tahu apa yang harus mereka jual. Mungkin juga diantara mereka banyak yang fresh graduate sehingga belum berpengalaman dalam menjual. Maka sebelum para penjual (salesman) tersebut melakukan penjualan, perusahaan membekali mereka dengan ilmu mengenai produk/ jasa yang dijual (product knowledge) dan juga ilmu tentang bagaimana cara menjual yang baik (selling skill).

Awalnya para penjual tersebut tidak memiliki keterampilan menjual, namun karena adanya pelatihan menjual (sales training), maka mereka menjadi penjual yang lebih baik. Berbagai pelatihan diberikan untuk terus meningkatkan keterampilan para penjual (salesman) di perusahaan tersebut. Inilah yang disebut dengan Training (pelatihan), yaitu mengajarkan keterampilan/ pengetahuan baru kepada para pembelajar.

Ternyata dari sekian banyak penjual (salesman) yang dilatih, tidak semuanya menunjukkan performa yang maksimal. Beberapa orang penjual memiliki performa di bawah rata-rata. Jika memiliki atasan yang bijak, maka ia bisa mencari tahu apa sebenarnya yang menjadi kendala si penjual tersebut. Namun, jika perusahaan tidak memiliki ahli yang berkompeten menangani hal-hal seperti ini, ia bisa mengirimkan penjual tersebut kepada seorang Konsultan untuk menemukan apa sebenarnya permasalahan yang sedang dihadapi penjual (salesman) tersebut.

Setelah melakukan wawancara mendalam, ditemukan bahwa si penjual  ternyata memiliki beberapa hambatan mental (mental blok) yang selama ini sering menghambatnya dalam melakukan penjualan. Maka dalam hal ini Thera­py-lah yang dibutuhkan si penjual untuk menghilangkan hambatan mentalnya tersebut. Terapi dapat kita artikan sebuah proses membawa seseorang ke titik normal, tidak berada dalam keadaan yang negatif lagi.

Banyak masalah lain yang sebenarnya merupakan ranahnya terapi, tentu tidak bisa jika diselesaikan melalui pelatihan (training) dan demikian juga sebaliknya. Permasalahan-permasalahan ini biasanya bersifat personal dan berhubungan dengan pengalaman pribadi orang per orang. Seperti ketakutan menjual, ketakutan bertemu prospek, tidak percaya diri, gagap, ngomong tidak lancar, keyakinan yang menghambat, citra diri yang buruk, dsb.

Sementara itu, banyak juga penjual yang performanya bagus dan selalu mencapai target penjualan yang telah ditetapkan perusahaan. Mereka ini sebenarnya masih bisa melebihi apa yang telah mereka capai sekarang. Tapi semua “ilmu menjual” sudah mereka kuasai, berbagai pelatihan pun sudah mereka ikuti. Maka untuk memaksimalkan potensi tersebut, seorang Coach dapat membantu mereka untuk mengeluarkan potensi terpendam mereka melalui pertanyaan-pertanyaan terarah. Inilah yang disebut dengan coaching, yaitu sebuah proses belajar yang membuat seseorang mampu mengeluarkan potensi terpendamnya dan melampaui batas yang selama ini sudah ia capai.

apa-bedanya-training-coaching-therapyJadi kalau kita gambarkan melalui sebuah gambar, posisi Training, Coaching, dan Therapy adalah sebagai berikut. Beruntung sekali kalau konsultan yang dimiliki perusahaan memiliki kompetensi untuk melakukan ketiganya sekaligus.

 

 

 

 

Salam sukses,

Bang Noer

Trainer, Coach, & Therapist

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *