Cara Meredakan Nyeri Dengan NLP

03. Cara Meredakan Nyeri Dengan NLP

Malam itu saya sedang mengerjakan Permainan Rumah (baca: PR), yang diberikan saat mengikuti sebuah pelatihan di Jakarta. Tiba-tiba, gigi saya terasa nyeri dan canat-cenut. Saya tak perlu mendeskripsikan kepada Anda bagaimana rasanya. Tentu jika pernah sakit gigi, Anda dapat membayangkan bagaimana rasanya saat itu. :p

Keadaan itu sungguh mengganggu. PR belum selesai ditambah lagi dengan rasa nyeri yang “tak tertahankan”. Tidak ada obat pereda nyeri saat itu, dan saya sebisa mungkin menghindari penggunaannya. Bukan berarti saya mengatakan obat itu tidak berguna, namun kalau tidak terlalu mendesak, saya lebih suka menggunakan cara yang alamiah.

Untungnya, saya sudah pernah belajar NLP sebelumnya. Ada sebuah teknik di dalam NLP yang bisa membantu saya untuk meredakan rasa sakit itu untuk sementara. Teknik ini saya ajarkan di pelatihan self mastery. Akhirnya, saya memutuskan untuk menggunakannya agar rasa nyeri itu segera hilang.

Bagaimana cara melakukannya?

Pertama, kita tentukan dulu perilaku atau sesuatu yang ingin diubah (dalam hal ini adalah nyeri gigi).

Kedua, bangun komunikasi dengan bagian diri yang menciptakan rasa nyeri itu (Bagian X).

Saya pejamkan mata, merilekskan tubuh dan fikiran, dan masuk ke kondisi khusyuk (trance). Kemudian bertanya kepada diri saya sendiri, “Maukah bagian X berkomunikasi dengan saya?” Perhatikan terhadap sinyal-sinyal komunikasi darinya, bisa berupa gambaran mental, suara hati, atau sensasi tertentu di tubuh (Internal VAK).

Berterima kasihlah kepadanya, dan minta ia untuk membuat sinyal jawaban YA dan TIDAK (ideomotor/ideosensory respons). Saat itu saya menggunakan gerakan ibu jari tangan kanan untuk jawaban YA dan gerakan ibu jari tangan kiri untuk jawaban TIDAK.

Ketiga, pisahkan niat baik dari perilakunya.

Tanyakan kepada bagian X, apakah ia bersedia memberi tahu tujuannya memunculkan rasa nyeri  itu. Jika YA, tanyakan apa niat baiknya. Perhatikan setiap respon jawaban YA dan TIDAK yang sudah dibuat. Saat itu saya menemukan, bahwa munculnya rasa nyeri itu karena ada sesuatu yang salah dengan gigi saya. Jika TIDAK, ulangi lagi langkah kedua.

Keempat, ciptakan perilaku alternatif lain untuk memenuhi tujuan/ niat baiknya tadi.

Bertanya kepada bagian kreatif dari diri Anda untuk mencari perilaku alternatif lain sebagai pengganti dari perilaku sebelumnya (rasa nyeri). Minta ia menyebutkan minimal 3 perilaku pengganti. Dalam kasus saya, bagian kreatif berjanji akan pergi ke dokter gigi saat pelatihan ini sudah selesai dan kembali ke Medan.

Kelima, tanyakan bagian X, maukah ia menerima alternatif yang sudah ditawarkan oleh bagian kreatif.

“Jadi, karena pesanmu sudah kuterima dan keadaan sekarang tidak memungkinkan untuk mengunjungi dokter gigi, maukah kau untuk meredakan rasa nyeri ini sekarang, dan saya akan mengunjungi dokter gigi setelah pelatihan ini selesai?”

Untungnya, respon jawaban menunjukkan jawaban YA. Kalau tidak, saya harus kembali lagi ke langkah empat untuk mencari alternatif perilaku lain yang bisa diterima oleh bagian X.

Keenam, cek ekologis.

Tanyakan ke bagian diri yang lain, apakah ada yang keberatan dengan perubahan ini? Jika YA, saya harus menanyakan apa keberatannya, dan kembali lagi ke langkah empat. Jika TIDAK, proses berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar ini bisa segera diakhiri.

Alhamdulillah, tidak ada bagian tubuh yang keberatan jika rasa nyeri itu dihilangkan. Setelah melakukan prosesnya selama lebih kurang lima menit, akhirnya beberapa menit kemudian rasa nyeri itu hilang. Saya pun dapat melanjutkan kembali pekerjaan yang belum selesai. Keesokan harinya, saya dapat mengikuti pelatihan seperti biasa, tanpa ada rasa nyeri lagi di gigi.

Apakah Anda pernah mengalami hal yang serupa? Migrain, sakit perut, alergi, dsb? Anda bisa terapkan teknik ini untuk redakan gejalanya. Tapi ingat, teknik ini bukan sebagai pengganti untuk tidak berobat ke dokter. Jika ada yang salah dengan tubuh Anda, Anda tetap perlu memeriksakannya ke dokter.

Rasa sakit itu adalah alarm bahwa ada sesuatu yang salah dengan tubuh kita. Jadi, saat pesan alarm itu sudah kita terima, seharusnya alarmnya boleh dimatikan. Tapi, jangan matikan alarmnya saja tanpa  membereskan alasan alarm itu muncul. Bisa jadi, tubuh Anda akan memunculkan alarm lain yang lebih “dahsyat” jika Anda tidak memperdulikan pesan yang disampaikannya.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *